Dapatkan produk TERBARU dan istimewa di sini ! Untuk pembelian di atas 10 pcs silakan hubungi Customer Service untuk mendapatkan HARGA KHUSUS ! Terima kasih ! Salam, MiracleWays Store Perumahan Kopian Barat B7 Probolinggo, Jawa Timur
Beranda » Artikel Terbaru » Politik Uang: Relasi Politik Yang Mentah

Politik Uang: Relasi Politik Yang Mentah

Diposting pada 14 April 2019 oleh miracle | Dilihat: 88 kali

politik uang tanda relasi politk mentahPraktik politik uang terjadi biasanya pada kondisi pasar politik yang penuh ketidak jelasan dengan relasi politik yang masih mentah antara partai politik dengan masyarakat calon pemilih.

Terhadap berbagai temuan dugaan politik uang yang dilakukan oleh caleg partai di beberapa daerah, saya lebih tertarik membahasnya pada sisi motivasional dan situasi politik mikro yang melingkupi praktik politik uang. Saya tak berminat membahas pada tataran penindakan, karena itu sudah jelas regulasinya sebagai dasar penindakan oleh Bawaslu dan KPU.

Semua orang pasti sepakat bahwa politik uang merusak demokrasi dalam jangka panjang. Tetapi mengapa praktik politik uang itu masih ada hingga kini? Penelitian Aspinall dari Australian National University menunjukkan bahwa pengalaman pemilu pada tingkat akar rumput, praktik politik uang dalam aneka bentuknya paling massif terjadi pada pemilu 2014, karena pengaruh patronase dan klientelisme.

Baca [DOWNLOAD e-Book]: Aspinall, Democracy for Sale: Elections, Clientelism and the State in Indonesia, Cornell University, 2019 

Patronase adalah ‘pembagian keuntungan diantara politisi untuk mendistribusikan sesuatu secara individual kepada pemilih, pekerja atau pegiat kampanye dalam rangka mendapatkan dukungan politik.

Dengan demikian patronase berupa uang tunai atau barang atau keuntungan lain, yang didistribusikan kepada pemilih dengan menggunakan dana pribadi atau dana public.

Sedangkan klientelisme adalah karakter relasi antara politisi dan pemilih atau pendukung, yang merupakan relasi tatap muka bernuansa timbal balik sebagai respons terhadap pemberian.

Klientelisme juga bernuansa hirarkis yakni relasi kekuasaan yang tidak berimbang antara patron (politisi) dan klien (pemilih).

Baca [DOWNLOAD e-Book]: Burhanuddin Muhtadi, Vote Buying in Indonesia: Mechanics of Bribery, Palgrave, 2019

Relasi pertukaran klientelistik ini terjadi secara berulang maupun secara tunggal. Relasi berulang terjadi ketika politisi melakukan pendekatan kepada pemilih secara berulang, sedangkan pada relasi tunggal politisi melakukan “beli suara” sekali memberi dan tidak kembali lagi atau “beli putus”.

Nah, mengapa praktik ini musti terjadi pada relasi politik antara politisi dan pemilih atau pendukungnya? Tidak bisakah relasi politik ini terjadi secara pemahaman akan program partai demi kepentingan masyarakat pemilih?

Tulisan saya terdahulu:

Hitung Mundur Coblosan: Fenomena Post-Truth

Kita pilahkan dulu antara keterlibatan uang untuk biaya politik dengan menggunakan uang untuk ditukar dengan dukungan atau suara. Biaya politik berbeda dengan politik uang.

Pemberian uang atau barang atau keuntungan lain oleh politisi kepada pemilih untuk ditukar dengan suara, itulah politik uang (money politics).

Pemberian uang kepada pemilih ini dalam dua pemilu sebelumnya hingga kini telah mengalami pergeseran makna. Telah terjadi sikap permisif di masyarakat terhadap pemberian uang atau barang ini, yang kini telah menjadi semacam “adab dalam kunjungan politik”. Yakni, bahwa tamu, apalagi tamu politik, membawa “oleh-oleh” kepada tuan rumah adalah sesuatu yang dianggap lumrah, bahkan “sopan”. Ucapan di masyarakat, “kalau caleg ke sini ndak bawa uang ndak akan direken mas” menunjukkan sikap permisif tadi.

Secara semiotic, ucapan itu bermakna “prasyarat kunjungan”. Artinya, belum ada jaminan bahwa uang yang diterimanya bakal pasti ditukar dengan suara. Ada variable lain yang harus ada jika ingin mendapatkan dukungan suara secara konkret. Bisa jadi, “variable lain” itu adalah nominal yang berbeda, kedekatan emosional dan kesamaan-kesamaan emosional. Fenomena “pasar politik” ini tentu menyulitkan caleg.

Hasrat ingin “terpilih sekarang” tentu akan menggiring pikiran caleg untuk menyesuaikan dengan pasar politik ini.

Pergeseran makna “uang yang diterima”, merupakan tanda bahwa system pengetahuan masyarakat kita telah mengalami kemajuan. Saya memprediksi pergeseran ini akan membawa kepada pemahaman baru di masyarakat, bahwa ‘uang tidak berarti apa-apa dalam pemilihan’. Peluang inilah yang amat baik dimanfaatkan oleh partai politik untuk merebut hati calon pemilih.

Yakni dengan melakukan pendidikan politik yang sesuai dengan situasi dan kondisi masyarakat, sebagai investasi politik.

Tentu saja, pendidikan politik ala partai politik berbeda dengan pendidikan politik ala non-partai. Pendidikan politik ala partai politik adalah pendidikan politik electoral partisan.

Tidak masalah sepanjang tidak bicara pertukaran materi secara instant dengan dukungan politik. Ini untuk menggeser pemikiran masyarakat dan membentuk system pengetahuan baru. Di titik inilah politik uang menjadi tak berguna dan diabaikan. Tentu, ada syarat dan ketentuan berlaku, yakni relasi partai politik dan masyarakat (konstituen) telah mencapai derajat kematangan dan kesetaraan, yang ditandai oleh system pengetahuan masing-masing pihak. Perlu waktu memang, juga perlu regulasi politik yang mendukung.

Kondisi sekarang, relasi politik yang terjalin masih mentah, yakni belum ada intensitas positif yang berhasil membentuk pengetahuan masyarakat dalam keselarasan pemaknaan politik sebagai kebutuhan akan kemaslahatan bersama. Sistem pengetahuan mengenai politik yang hidup di masyarakat memiliki kesenjangan dengan yang hidup di tubuh partai politik.

Sistem pengetahuan ini dipengaruhi oleh dunia-hidup masing-masing. Dunia-hidup masyarakat adalah dunia social-ekonomi, belum akrab benar dengan dunia politik-pemerintahan. Politik-pemerintahan dianggap sebagai “urusan orang partai mencari nafkah”, sehingga timbul tuntutan “profit-sharing” bernuansa ekonomi.

Sedangkan dunia-hidup partai politik adalah merebut kekuasaan untuk menguasai pemerintahan yang ujungnya untuk kebaikan bersama masyarakat. Dan, dalam proses menuju pencapaian kebaikan bersama masyarakat inilah partai politik mengalami kecelakaan berkelanjutan, sehingga yang tertangkap oleh masyarakat adalah hanya berhenti pada perebutan kekuasaan saja.

Dan itu, dalam pandangan masyarakat, bernuansa ekonomi. Kondisi ini tidak setara. Sistem pengetahuan yang hidup di masing-masingnya, juga tidak setara.

Praktik politik uang akan terhenti ketika relasi partai politik dan masyarakat telah mencapai derajat kematangan dan kesetaraan, yang ditandai dengan pemahaman yang selaras dalam memaknai politik.

Kapan itu? Untuk menjawabnya, kita sambung dulu dengan tulisan berikutnya ya, tentang dilemma partai politik: pendidikan politik sebagai investasi politik atau electoral pragmatic. Tulisan ini untuk mengurai pelan-pelan jalan panjang menuju relasi politik yang bernuansa kematangan dan kesetaraan antara partai politik dan masyarakat.***

 

Wawan E. Kuswandoro

Dosen Ilmu Politik FISIP Universitas Brawijaya,

Kandidat Doktor Ilmu Politik Universitas Airlangga.

Bagikan informasi tentang Politik Uang: Relasi Politik Yang Mentah kepada teman atau kerabat Anda.

Politik Uang: Relasi Politik Yang Mentah | MIRACLE WAYS STORE

Belum ada komentar untuk Politik Uang: Relasi Politik Yang Mentah

Silahkan tulis komentar Anda

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
OFF 78%
QUICK ORDER
Seraut Asa Sebening Kristal [e-Book]

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 10.000 Rp 45.000
Ready Stock / BK001
Rp 10.000 Rp 45.000
Ready Stock / BK001
Popular!
QUICK ORDER
Panduan Google Ads

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Harga Hubungi CS
Ready Stock / TRA02
*Harga Hubungi CS
Ready Stock / TRA02
Popular!
OFF 57%
QUICK ORDER
Be Happy – Soft Competency Training [harga per 100 orang]

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

soft competency training Rp 2.500.000 Rp 5.758.000
Ready Stock / TRA01
Rp 2.500.000 Rp 5.758.000
Ready Stock / TRA01
Best Seller
OFF 13%
QUICK ORDER
Life Revolution Tung Desem Waringin

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 299.000 Rp 345.000
Ready Stock / BKPD001
Rp 299.000 Rp 345.000
Ready Stock / BKPD001
OFF 100%
QUICK ORDER
Mengenalkan dan Mengekalkan Kehilangan [e-Book]

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

*Harga Hubungi CS
Ready Stock / FREESTUFF
*Harga Hubungi CS
Ready Stock / FREESTUFF
OFF 78%
QUICK ORDER
Modal Sosial dan Urban Policy [e-Book]

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 10.000 Rp 45.000
Ready Stock / BK002
Rp 10.000 Rp 45.000
Ready Stock / BK002
SIDEBAR